Pages

Minggu, 07 April 2013

Tugas Cerpen Bahasa Indonesia


Nama: Anni’mah Nurul Fadlilah
Kelas: X9      No.absen: 06

A.            Sinopsis

Tema : cinta segitiga
Topik : cinta hati vs cinta mata

Mata Zula, bertemu dengan sepasang bolamata milik seorang lelaki di kelasnya. Perputaran waktu bumi saat itu seperti disetting menjadi slow motion, persediaan gas oksigen pun tiba – tiba hilang sesaat. Satu menit berlalu, dan bumi kembali seperti semula, persediaan gas oksigen pun muncul kembali. Hanya sesaat saja, kejadian itu terjadi.
***
“Seperti namanya, jatuh cinta. Jatuh, setiap orang akan jatuh apabila tersandung suatu benda. Dapat diartikan, setiap orang yang jatuh cinta pasti berawal dari tersandung. Misalnya, tersandung oleh kecantikannya, hati baiknya, mungkin juga bisa tersandung oleh tatapannya. Orang yang berani bermain cinta, maka harus berani juga menerima apa yang akan dia dapatkan. Seperti kata pepatah ‘janganlah bermain api, jika takut terkena apinnya’ mmm, mungkin gitu ya pepatahnya? Aku lupa…”
***
Mencintai dan dicintai adalah hak semua orang. Namun, mencintai sesuatu itu lebih baik tidak berlebihan. Karena, suatu saat sesuatu yang dicintai dengan berlebihan itu bisa menjadi sesuatu yang dibencinya. Permisalan, seperti yang banyak orang katakan ‘jika ada orang yang benci setengah mati dengan seseorang, pasti dulu orang itu pernah mencintainya setengah mati juga’.
***
Dia pernah kehilangan seseorang..
Seseorang yang disayanginya..
Seseorang yang yang berarti baginya..
Masa lalu yang pahit....


B.            Cerpen

Segitiga Transparan

Sepi yang sunyi, hanya terdengar suara guru yang berbicara di depan kelas dan bisikan bisikan murid yang entah sibuk apa. Dan kali ini Zula hanya mendengar apa yang di jelaskan oleh guru. Tak tahu, hanya akan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri atau masuk telinga kanan lalu di salin di otak, kemudian baru keluar telinga kiri . Pikirannya tak sepenuhnya terfokuskan pada satu titik – guru – melainkan dua titik, atau tiga titik, atau empat titik, atau… Entahlah, tak tau apa yang sedang mengganggu pikiran gadis encik (ke-arab-araban, blasteran Arab-Indonesia) ini. ‘pelajaran apa ini? Aku gak faham sama sekali’ mungkin kalimat itu yang sekarang sedang menguasai pikirannya. Sehingga, membuat rasa malas dan kantuk muncul tiba – tiba. ‘bobok ajalah’ suatu ide yang muncul di luar kepala. Gadis ini suka tidur. Mungkin, di mana saja dia berada, dan tiba – tiba dia mengantuk, bisa saja dia tidur di tempat itu juga. Tak begitu mempermasalahkan keadaan tempat, yang penting memenuhi keinginan mata. Satu prinsipnya yang mendukung untuk dia tidur adalah ‘lapar?ya makan, haus?minum, capek?istirahat, ngantuk?ya tidur’. Prinsip simpel, yang sudah diketahui banyak orang.
“Zul, Zulaa… woy!! Zulaa?” panggil Kesya. Bisik-bisik.
“Apaaa??” sambil mengangkat kepala, dan duduk tegak tak bersemangat dengan mata setengah kantuk.
“Dasar lu ya, molor mulu,” cetusnya.
“Ngantuk, Sya. Aku gak faham fisikanya.”
“Kalau nggak faham itu, ya di perhatiin donk. Bukannya malah di tinggal molor.”
“Nanti aku nanya ke guru les-ku aja,” ucapnya sambil tertawa kecil mengejek.
“Iya iyaa, yang ada guru les-nya,” Jawab Kesya sambil sedikit melirik ke arah Zula, dengan nada mengalah.
“Hahahaha. Ngomong-ngomong, ngantukku sedikit hilang gara-gara kamu, Sya.”
“Wah, berarti akan ada tanda ucapan terima kasih nih.”
“Iya. Memang ada… mmm… terimakasih mbak Kesya yang cantik, karena udah membantu mengusir sedikit rasa kantuk dalam diriku.” Rasanya ingin tertawa saat itu.
“Yaaah…. Yaudah deh. Iya, sama-sama.” Ucapnya, dan tersenyum. Senyumnya manis, seperti pemilik senyuman itu.
“Hahahahaha…” mereka – Zula dan Kesya – tertawa tanpa suara bersama – sama. Lalu, beberapa saat kemudian kembali pada kesibukan masing-masing. Zula tidak terlalu ingin tidur lagi. Mata kembali tertuju kepada guru yang ada di depan kelas. Terkadang, mata itu juga menyusuri ruang kelas yang ditempatinya. Melihat teman-temannya. Tidak berniat yang aneh – aneh. Hanya ingin melihat – lihat saja. Mata kembali menatap buku dan bolpoin yang berdampingan. ‘Betapa serasinya dua benda ini’ pikir Zula saat menatap buku dan bolpoin. ‘Sepertinya ada sesuatu yang aneh, apa ya?’. Seketika Zula mengangkat kepalanya yang tadinya tertunduk menatap buku dan bolpoin di mejanya, ke arah depan sebelah kanan. Saat itulah, dia mengetahui sesuatu ‘keanehan’ yang dari tadi dirasakannya. Mata Zula, bertemu dengan sepasang bolamata milik seorang lelaki di kelasnya. Perputaran waktu bumi saat itu seperti disetting menjadi slow motion, persediaan gas oksigen pun tiba – tiba hilang sesaat. Satu menit berlalu, dan bumi kembali seperti semula, persediaan gas oksigen pun muncul kembali. Hanya sesaat saja, kejadian itu terjadi. Namun, entah berapa lama, Zula akan terus teringat kejadian tadi. Dan, apakah lelaki itu juga memikirkan sesuatu seperti yang dipikirkan Zula dan teringat kejadian tadi itu?
‘Ya ampuun, kenapa ini?’ batin Zula setelah 3 menit berlalu. ‘Tapi, ada yang aneh dengan tatapan itu, apa ya?’ rasa ingin tahu Zula pun cepat terbangkitkan. Otak Zula bekerja kembali!!. Mungkin jika Kesya tahu bahwa otak Zula bekerja kembali - setelah sedari tadi tak berfungsi, Kesya akan mulai bangga, lalu memberi ucapan ‘selamat’ untuk mengejeknya – Zula. Zula memang orang yang sedikit aneh. Terkadang bisa berpikiran jernih, terkadang pikirannya eror. Saat ini Zula sedang berpikiran jernih. Memikirkan keanehan yang tadi dilihatnya. ‘Kenapa tatapannya itu seperti melihat orang yang pernah dekat dengannya, dan orang yang sangat berarti dalam hidupnya? Emangnya aku pernah deket sama dia?’ pikir – pikir Zula. Dalam berpikir dia pun sempat membuat sebuah puisi. Mungkin sedikit tidak jelas. Tapi bermakna, bagi yang bisa memahaminya. Sampai pada jawabannya, setelah dia mengobrak – abrik file – file yang ada dalam memori ingatanya. File – file yang berisi tentang obrolan Zuladengan temannya, Riri, yang membicarakan lelaki itu.
***
“Eh, Zul. Kamu tahu Gilang kan? Itu lho yang di pacokin (di jodoh jodohin untuk mengejek, pasang – pasangin) sama kamu?” cerita Riri ke Zula. Nama lelaki itu, Gilang. Dia bukan orang kaya, bukan anak kepala sekolah, bukan juga pangeran dari Kerajaan Caspian. Namun, karena otaknya yang cerdas membuat Gilang di kenal banyak orang di sekolah.
“Iya, kenapa?” jawaban singkat tak bersemangat. Karena baru saja dia mendapatkan nilai yang tak di inginkannya. Dan nilai itu yang membuat semangatnya habis ditelan nilai.
“Dia dulu, sebenernya udah pernah punya pacar. Cantik banget lho pacarnya.mereka berdua putus hubungan gara – gara Ujian Nasional. Pasti, anak sekolah selalu begitu. Katanya dia masih suka sama mantannya itu, dan pengen mereka balikan lagi.” “Ternyata muka alim itu tak menjamin ketidak pernahan pacarannya ya.”
“Ya biarin ajalah, setiap orang itu berhak menyayangi dan disayangi. Kata bu guru, dalam sosialisasi pacaran itu di perbolehkan. Gilang kan mamusia sosial.”
“Iya juga ya. Tapi aneh, Zul.”
“Halaah, biarin aja. Gak usah di pikir. Lagian juga gak ada untungnya jika kita mikir kayak gituan.”
“Iya iya, Bu guru,” ejek Riri ke Zula.
***
“Zul, ayo ke kantin..!” suara Kesya keras. “malah ngelamun terus,” tambahnya.
“Ehh. Oke.”
Zula berjalan mengikuti Kesya. Entah karena apa dia melihat Gilang lagi. Gilang sedang membaca buku . Tiba – tiba Zula terperanjat ketika Gilang mengangkat kepala yang langsung terarah ke arahnya. Dan, dangan segera Zula berpindah kesamping sebelah kiri Kesya.
“Eh, Sya….” Awal percakapan Zula dengan Kesya setelah mereka kembali ke tempat duduk mereka. Bangku Zula berada di depan bangku Kesya.
“Hm?.”
“Ceritakan padaku, tentang masa lalumu. Mungkin kenanganmu waktu SMP.”
“Oh… mmm… dulu aku punya sahabat, namanya Lintang. Dia orangnya tomboy. Asyiklah pokoknya. Aku dulu juga pernah pacaran. Tapi selama SMA ini, aku gak mau pacaran. Dulu aku pacaran kan cuma buat gengsi aja.”
“Hahaha.. kamu i pacaran? Nggak nyangka aku.”
“lhoo.. kan aku makhluk sosial. Jadi nggak salah donk,” menjawabnya di sertai melet (menjulurkan lidah keluar bermaksud mengejek).
            “Iya iyaa… eh.. eemm, menurutmu orang yang jatuh cinta itu kayak gimana? Mmm.. mungkin kronologinya?” tanyaku terpatah – patah.
            “Hayoo, kenapa Zul?? Kok tiba – tiba tanya kayak gitu? Setauku selama ini, kamu itu jarang lho ngobrolin kayak ginian. Jangan – jangan kamu lagi jatuh cinta ya?” ejek Kesya. Memang, Zula jarang ngobrol tentang hal seperti itu pada orang lain. Dia hanya memendamnya. Tidak ingin orang lain mengetahui isi hatinya yang sesungguhnya. Begitulah dia.
            “Hiiih, aku cuma mau nanya doank,” jawabnya jengkel.
            “Iya iyaa..”
            “Apa?”
            “Seperti namanya, jatuh cinta. Jatuh, setiap orang akan jatuh apabila tersandung suatu benda. Dapat diartikan, setiap orang yang jatuh cinta pasti berawal dari tersandung. Misalnya, tersandung oleh kecantikannya, hati baiknya, mungkin juga bisa tersandung oleh tatapannya. Orang yang berani bermain cinta, maka harus berani juga menerima apa yang akan dia dapatkan. Seperti kata pepatah ‘janganlah bermain api, jika takut terkena apinnya’ mmm, mungkin gitu ya pepatahnya? Aku lupa…”
            “Hahahaha, mungkin begitu, kalaupun salah, yang penting maksudnya begitu. Iya kan? Lanjut.”
            “Haha, iya ya.. Cinta itu main hati. Maka hati – hatilah dengan hati. Jika kamu jatuh cinta pada seseorang, cintailah dia dengan sewajarnya. Mungin suatu saat dia akan menjadi orang yang akan kamu benci. Dan jika kamu jatuh cinta, janganlah kamu sampai jatuh terlalu dalam. Karena, mungkin saja suatu saat kamu akan merasakan sakit akibat jatuh itu. Mungkin itu saja yang aku tahu.”
            “Oh… Begitu…” Tepat selesai percakapan, selesai juga jam istirahat. Murid - murid kelas XI IPA 3 pun bergegas masuk ke dalam kelas.
            Jatuh karena tersandung oleh tatapannya – Gilang. Mungkin ini untuk kedua kalinya Zula jatuh. Jatuh yang pertama, karena kersandung tatapan seseorang waktu di SMP dulu. Seseorang yang pada akhirnya menyakiti hati gadis yang jatuh padanya. ‘Aku nggak boleh jatuh terlalu dalam lagi, jika takut sakit,’ semangat dalam hati Zula. Bermain cinta itu memang membutuhkan mental yang kuat. Mencintai dan dicintai adalah hak semua orang. Namun, mencintai sesuatu itu lebih baik tidak berlebihan. Karena, suatu saat sesuatu yang dicintai dengan berlebihan itu bisa menjadi sesuatu yang dibencinya. Permisalan, seperti yang banyak orang katakan ‘jika ada orang yang benci setengah mati dengan seseorang, pasti dulu orang itu pernah mencintainya setengah mati juga’. Zula saat ini mencoba untuk bangkit, agar tidak jatuh terlalu dalam lagi. Yang dipikirkannya sekarang adalah ‘cita – cita dan keluarga’. Karena, merekalah yang paling berharga. Merekalah yang paling Zula cintai. Dari hati.
***
Yang Kedua

Entah mengapa, hatiku berdebar lebih cepat dari biasanya...
Entahlah.. Aku tak tahu itu..

Mungkinkah karena aku melihat tatapan matanya yang tertuju padaku??
Mungkinkah karena aku takut ditatap seperti itu??
Atau mungkin.... Mungkiin.....

Tak seperti biasanya, dia menatapku seperti itu..
Seperti melihat seseorang, yang telah lama menghilang...

Mungkin itu hanya perasaanku saja..
Perasaan seorang gadis, dengan tingkat keGeeRan yang tinggi..
Sangaat tinggi...

Dia pernah kehilangan seseorang..
Seseorang yang disayanginya..
Seseorang yang yang berarti baginya..
Masa lalu yang pahit....

Tapii.......
Apa hubungannya denganku??
Apa aku mirip dengan seseorang itu??
Atau.. Akulah penyebab kehilangan itu??

Mungkin seseorang itu sangat berarti baginya..
Berarti dalam hidupnya....
Daan... Sekarang orang itu tiba tiba muncul kembali...
Muncul dalam diri orang lain...

Dia menatapku.. Karena seseorang itu ada pada diriku..
Entahlah.. Tatapan itu sulit untuk di tebak..
Rindu? Senang? Terkejut? atau Benci??

Diam tanpa kata...
Bagai beo yang membisu dalam kesunyian....
Sulit bagiku menggambarkannya..
Tatapan tajam, yang menusuk hati paling dalam..

Rasa takut dan senang tiba tiba muncul dalam diriku..
Takut, jika ternyata itu adalah tatapan kebencian.
Senang, karena dirinya melihatku..
Aku mungkin mulai jatuh cinta. Padanya....

Aku tersadar.....
Jika suatu saat dia menyayangiku, mencintaiku...
Pasti bukan berawal karena aku, adalah diriku..
Bukan karena hati…
Tapi karena, aku menjadi yang kedua... 

C.           Unsur Intrinsik

·         Tema: cinta segitiga.
·         Topik: cinta hati vs cinta mata
·         Alur: maju
·         Setting: di kelas XI IPA 3
·         Tokoh dan Penokohan:
1.      Zula: gadis yang suka tidur, tidak terlalu pandai, lemah dalam penggunaan otak, gadis yang hampir jatuh cinta pada Gilang.
2.      Gilang: anak yang cerdas, tidak terlalu tampan, mempunyai masa lalu yang pahit, dan berpikiran seperti melihat kekasihnya dulu ketika dia melihat Zula.
3.      Kesya: sahabat Zula. baik, dan pintar.
4.      Riri: suka membicarakan orang.
·         Sudut pandang: orang ketiga, pengamat.
·         Amanat:
1.      Mencintai itu butuh mental yang tinggi
2.      Cintailah orang yang kamu cintai dengan sewajarnya, boleh jadi dia akan menjadi yang kamu benci suatu saat. Dan, bencilah orang yang kamu benci dengan sewajarnya, boleh jadi dia akan menjadi yang kamu cintai suatu saat.
3.      Cita – cita dan keluarga adalah yang terpenting
4.      Hati – hatilah dengan hati

Tidak ada komentar: